Rumah Cimanggis

Sumber Gambar : https://historia.id/

Alamat rumah cimanggis :

Latar Sejarah

Bangunan ini  didirikan oleh  David J. Smith antara 1775  hingga 1778  dan diperuntukkan bagi janda dari Gubernur Jenderal van der Parra. Setelah janda sang jenderal meninggal, rumah ini diwariskan kepada Smith, tetapi kemudian disita karena Smith bangkrut akibat bermain spekulasi. Rumah ini disita bersama seluruh tanah dan perkebunannya. Pada tahun  1834   bangunan  ini   sebagian  rusak  oleh gempa bumi  yang ditimbulkan akibat meletusnya Gunung Megamendung  (Heuken,  S.J,  2000:  284). Kepemilikan selanjutnya belum  dapat diketahui dengan pasti, namun pada masa-masa selanjutnya bangunan  beserta  lingkungannya  masih dimanfaatkan sebagai perkebunan.

Bangunan yang dulunya dikenal masyarakat sebagai Gedung Tinggi Cimanggis ini terletak di antara jalan yang  menghubungkan Jakarta  (Batavia)  dengan Bogor (Jl. Raya Bogor Km 34, saat ini berada dalam

Dok. BP3 Serang

Pilar dengan order doria pada serambi depan

kompleks pemancar RRI), berdekatan dengan wilayah yang disebut dengan Cibinong. Pasar Cimanggis sendiri menurut  sejarahnya dimiliki  oleh pemilik  tanah Cimanggis. Cimanggis dan terutama Cibinong letaknya sangat strategis, karena di wilayah ini disediakan  tempat  untuk   mengganti  kuda  atau  kerbau  penarik  beban  dalam perjalanan menuju  Bogor dan Puncak. Di tempat ini juga terdapat jembatan yang menyeberangi Sungai  Ciliwung dan tersedia tempat perhentian untuk  menginap di malam hari.  Beberapa  catatan perjalanan  menceritakan  tentang sulitnya kondisi jalan di jalur ini pada tahun-tahun antara 1750  hingga 1850.  Gubernur Jenderal van Imhoff dalam catatan perjalanannya  menyebutkan

bahwa pada musim hujan terkadang diperlukan waktu lebih dari empat jam untuk menempuh perjalanan  dari  Cimanggis  ke  Bogor  (Heuken,  S.J,

2000: 285).

Pada tahun 1964,  Radio Republik  Indonesia (RRI)  mengambil alih tanah dan menggunakannya sebagai stasiun pemancar pada tahun 1967. Bangunan rumah Gedung Tinggi  Cimanggis  tidak luput  dari pengambil-alihan. Gedung yang besar ini

kemudian   dijadikan   tempat   tinggal    beberapa keluarga  secara  bersamaan,  sedangkan sebagian bangunannya  digunakan untuk  berdirinya  menara pemancar.   Tiga   puluh    tahun   kemudian,   RRI membuat kompleks tempat tinggal di tanah sekitar

Dok. BP3 Serang

Kondisi saat ini Gedung tinggi Cimanggis, dilihat dari arah selatan.

stasiun pemancar, sehingga beberapa keluarga yang menempati bangunan berangsur pindah ke  kompleks yang   telah   disediakan.   Pemanfaatan   yang   tidak dibarengi dengan perawatan bangunan, menjadikan bangunan yang  saat  ini  kosong ditinggalkan  dalam keadaan yang memprihatinkan, bahkan dianggap menyeramkan oleh  masyarakat dan dijadikan tempat shooting beberapa  acara  yang berhubungan  dengan alam gaib.

Deskripsi

Denah bangunan berbentuk  empat persegi panjang, berdiri di atas batur setinggi 30 cm. Bangunan memiliki arah hadap timur.  Bagian façade bangunan memperlihatkan adanya anak tangga yang menghubungkan halaman dengan serambi depan. Serambi depan bangunan memanjang mengisi seluruh bagian  depan dengan denah empat persegi panjang. Serambi ini tidak hanya terdapat di bagian depan, tetapi juga menyambung dengan serambi di sisi kanan (utara) dan kiri (selatan) bangunan hingga ke bagian serambi belakang. Serambi  yang  memiliki lebar  4,00  cm  ini

Serambi kanan (utara). Tampak tiang-tiang kayu penyangga  atap  dan kamar mandi baru di sisi kiri.

dibatasi dengan pagar tembok setinggi 90 cm yang pada bagian atasnya ditumpangi sejumlah tiang balok penopang atap. Lantainya ditutup  dengan tegel berwarna abu kehijauan berukuran 20 x 20 cm.  pada serambi depan terdapat tiang-tiang dengan bentuk  order doria dengan base yang cukup  tinggi (100  cm)  sejumlah delapan (8) yang berjajar selatan-utara sebagai penyangga atap.

Tampak façade, pintu  utama bangunan hanya satu (1),  terletak di  tengah façade. Ukuran pintu  cukup  besar, di kanan dan kiri pintu  terdapat masing-masing tiga (3) jendela ukuran besar. Pintu bentuk empat persegi panjang dengan dua daun pintu  yang arah  bukaannya ke  dalam,  pada  bagian  lantai tepat dibawah pintu terdapat pedestal dari papan batu andesit. Kusen pintu  maupun jendela berukuran cukup  besar, yaitu 19 x 16 cm. Pada bagian atas pintu dilengkapi dengan bovenlicht yang pada kusen atasnya dibentuk  sedikit melengkung. Bovenlicht dibuat dengan dekorasi  ukiran  berupa  pot  bunga dengan bunganya yang  membentuk suluran. Jendela bagian façade berupa jendela tinggi dan besar yang dilengkapi dengan dua daun  yang  terbuat  dari  kayu.  Daun  jendela  memiliki  arah  bukaan  ke  dalam, sedangkan pada bagian luarnya dilapis dengan kawat teralis. Kusen jendela dibuat serupa dengan pintu,  bovenlicht bagian  atas jendela ditutup  dengan panel kaca bentuk bujur sangkar.

Berbeda  dengan  serambi  depan yang  atapnya  disangga  oleh   pilar-pilar berukuran besar bergaya Doria, serambi atau teras di sisi kanan dan kiri bangunan memiliki tiang-tiang penyangga atap dari bahan kayu bulat berdiameter 20 cm yang didirikan di atas base (umpak) susunan bata yang diplester berukuran 50 x 50 cm dengan  tinggi  umpak 90  cm.  Tampak dari  utara,  sepanjang  dinding bangunan terdapat tiga (3) jendela besar seperti pada bagian depan bangunan dan dua pintu kecil  dengan satu daun pintu,  kemudian pada sisi paling barat  dari  dinding utara terdapat satu pintu besar dengan dua daun. Ukurannya sama dengan pintu façade, perbedaanya ada pada bagian bovenlicht saja yang hanya berupa panel kaca bukan ukiran. pada sudut barat laut sebagian dari serambinya digunakan sebagai tempat tinggal satu keluarga dengan melakukan beberapa penambahan dinding. Selain itu terdapat satu kamar mandi/toilet pada bagian sisi utara serambi kanan (utara) di sudut barat  daya. Pandangan dari  arah  selatan bangunan juga memperlihatkan posisi pintu  dan jendela yang sama. Pada serambi selatan (kiri) didapati dinding penambahan baru yang menyekat serambi menjadi beberapa ruangan.

Serambi   belakang  dibuat  cukup   luas  dibandingkan dengan serambi  muka,  lebarnya  5,40  m  memanjang sepanjang dinding belakang bangunan. Lantainya lebih rendah 20 cm daripada lantai ruang dalam. Serambi ini terhubung  dengan bagian  dalam rumah  melalui  tiga pintu yang berjajar utara-selatan pada dindingnya. Pintu bagian tengah bagian bovenlicht-nya  memiliki bentuk yang menyerupai pintu  bagian façade dan pada bagian lantainya tepat di dasar pintu terdapat pedestal berupa papan batu andesit. Bagian luar dari jendela model  dua daunnya ditutup dengan kawat   besi, begitu   juga dengan bovenlichtnya.

Ruang tengah merupakan ruangan paling megah dengan dekorasinya yang kaya. Berbentuk   empat persegi  panjang  membentang utara-selatan,  ruangan  ini dibuat  tanpa  sudut  siku,  karena  pada  keempat sudutan  dan  sisi-sisi  diantara jendelanya diberikan dekorasi berupa pilaster bergaya ionic.  Ruangan ini memiliki delapan (8) jendela, masing-masing empat pada dinding barat dan timur.  Jendela dengan bentuk kusen yang sama dengan jendela pada sisi-sisi yang menghadap luar bangunan, hanya daunnya yang berbeda. Daun jendela ruang tengah berbentuk panel

-panel kaca menggunakan model sliding yang arah bukaannya ke atas. Pada bagian sisi kanan dan kiri (utara dan selatan) ruangan terdapat kamar. Pintunya model dua daun dengan bovenlicht berdekorasi ukiran malaikat di tengah suluran. Pada bagian lantai di dasar  pintu  terdapat  pedestal berupa  papan batu andesit. Pada dinding barat  ruang tengah terdapat  pintu  dengan dua daun,  namun ukurannya lebih  kecil bila dibandingkan dengan pintu dua daun lainnya di bangunan ini. Pintu di sisi barat ruang tengah ini menghubungkan ruang tengah dengan ruang belakang. Lantai ruang tengah ditutup  menggunakan tegel berwarna abu kehijauan berukuran 20 x 20 cm. Dibandingkan dengan lantai kedua kamar pada sisi-sisi ruangannya, kedua kamar memiliki lantai yang lebih  tinggi daripada ruang tengah. Tiap kamar di sisi ruang tengah memiliki dua jendela menghadap halaman samping dan satu pintu  dengan satu daun yang menghubungkan kamar dengan serambi samping.

Setelah ruang tengah, bagian selanjutnya adalah ruang belakang. Denahnya sama   dengan  dua  ruang   besar   sebelumnya,   yaitu  empat  persegi   panjang membentang utara-selatan dengan dua kamar di sisi utara dan selatannya. Pada dinding  barat   ruang   belakang  terdapat   jajaran   dua  jendela  yang  langsung menghadap halaman belakang melalui serambi belakang. Pintu  yang mengarah ke serambi belakang seperti yang telah dideskripsikan di  atas, berupa pintu  besar dengan dua daun berpedestal papan batu andesit di bagian lantai bawah pintu.

Hal-hal lain dari bangunan ini, misalnya pintu-pintu  yang menghubungkan tiap kamar dengan kamar lainnya yang posisinya saling bersisian. Pintu  penghubung ini berukuran kecil dengan satu daun pintu. Plafon bangunan menggunakan bahan baru dari asbes, sedangkan pada masa lalunya dapat diperkirakan menggunakan papan kayu. Melalui bagian-bagian plafon yang telah rusak dapat dilihat kerangka atap bangunan yang berbentuk  limasan menggunakan balok-balok kayu. Bahan penutup

atap yang menggunakan genteng tampaknya telah mengalami penggantian bahan. Pada bagian serambi belakang, tampak adanya bagian teras yang atapnya ditopang dengan tiang-tiang  pipa besi (consol). Pada sisi  utara,  selatan dan barat  teras terdapat susunan anak tangga menuju  halaman belakang.

Diantara  banyak  bagian  yang  rusak,  dapat  dijumpai  sejumlah  bagian bangunan yang memperlihatkan adanya alih fungsi ruangan dan juga vandalisme. Foto tahun 1920-an masih meperlihatkan bagian yang indah dari ruang tengah atau perjamuan (resepsi). Hal yang tidak ditemui  saat ini dari bagian ruang resepsi adalah lantai yang telah berubah, dekoratif dindnig yang raya telah hilang sebagian menjadi hanya dinding polos, plafon papan yang berubah menggunakan bahan baru. Perubahan  ini  tentu  saja banyak dipengaruhi  oleh  pemanfaatan bangunan pada masa kemudian. Terutama sejak digunakan oleh RRI.