Rumah Pondok Cina (Eks Café Oh La La)

Latar Sejarah

Bangunan yang disebut sebagai Pondok  Cina telah ada  sejak  tahun 1690. Pada tahun 1834  saat terjadi gempa bumi  besar, bangunan ini rusak berat. Pada tahun 1898  kembali dibangun dengan menggunakan elemen  klasik. Sejak tahun

1866  kepemilikan Pondok  Cina dimiliki  oleh keluarga Tan (Heuken, S.J, 2000:  284). Pada 1990-an bangunan ini  menimbulkan polemik  antara pemerhati kebudayaan dengan pemilik  dan pengelola bangunan, karena adanya rencana merubah bangunan menjadi kafe. Pada akhirnya bangunan ini dimanfaatkan sebagai Café Oh La La yang pemanfaatannya  tetap diusahakan  mempertahankan  tampilan bangunan,  namun ruang-ruang bagian dalamnya disesuaikan dengan peruntukannnya sebagai kafe.

Deskripsi

Saat ini bangunan berada dalam lingkungan pusat perbelanjaan Margo City. Letaknya  sangat  strategis  karena  berada  di  kawasan pusat perekonomian  dan pendidikan Kota Depok, juga di tepi urat nadi kota Depok, yaitu Jalan Raya Margonda yang juga menjadi salah satu jalur utama yang menghubungkan Depok  dengan Jakarta.  Secara  administratif  masuk  dalam  wilayah  Kelurahan  Pondok   Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok yang  secara geografis berada pada koordinat 06º  22’ 20” LS dan 106º 50’ 03.26” BT.

Foto lama dari  bangunan Pondok  Cina memperlihatkan  bangunan dengan gaya  klasik. Bangunan memiliki arah  hadap  barat.  Bangunan berdenah  empat persegi panjang seluas ± 543 m² ini berdiri di atas batur setinggi 50 cm. Pada bagian façade terdapat  serambi  terbuka  dengan jendela-jendela  tanpa daun berbentuk pelengkung pada dinding-dindingnya. Pilaster-pilaster pada sudutan serambi dibuat bergaya order ionic.  Di sisi depan dari serambi terdapat porch  yang dilengkapi dengan dua pilar bergaya order ionic pada sudut depannya.

Porch  yang cukup  luas ini  dapat juga dikatakan juga sebagai bagian dari serambi  depan. Pada  bagian  tepian lantai porch  yang berdenah  empat persegi panjang dibatasi oleh dinding pagar setinggi 40 cm.  Pada sisi kanan dan kiri porch terdapat anak tangga yang berhubungan dengan halaman, denahnya membentuk sudutan  setengah  lingkaran,  sehingga  anak tangga  menghadap  ke  sisi depan bangunan juga. Sebagai  bangunan bergaya  klasik,  bangunan Pondok   Cina juga memiliki dinding yang dekoratif, seperti pilaster-pilaster pada dindingnya dan tepian jendela-jendelanya yang berbentuk  pelengkung. Selain itu  pada bagian atas dari jendela  terbukanya  yang berbentuk   pelengkung  dilengkapi  dengan  kanopi yang menggunakan  bahan  zinc.   Begitu pula  pada  sisi  depan  dan  samping  porch dilengkapi atap teritisan dari bahan zinc.  Dinding bagian atas bagian porch maupun façade secara keseluruhan dilengkapi frieze dengan bagian teratas terlihat adanya dekorasi berupa triglyph dan metope  yang dibuat sederhana. Pada bagian puncak dinding façade terdapat ornamen berupa suluran. Atapnya sendiri berupa atap datar yang menggunakan dasar dag. Berbeda dengan bagian façade yang berupa porch dan serambi, bagian utama bangunan memiliki atap genteng dengan struktur atap pelana.

Perbandingan pada saat ini memperlihatkan adanya perubahan pada façade bangunan, meskipun pengelola saat ini berusaha mempertahankan tampilan façade seperti masa lalunya. Perubahan itu tampak jelas pada tiang-tiang porch. Pada masa lalu hanya terdapat dua tiang yang terletak pada dua sudut façade porch, namun kini tiapsudut memiliki dua tiang yang dibuat bersisian. Perubahan lain terlihat pada atap utamanya yang sebelumnya berupa pelana, saat ini menjadi atap datar berupa dag. Kondisi saat ini, bangunan hanya tersisa bagian façade dan serambi, sedangkan bagian lainnya telah berubah total tanpa menyisakan bagian aslinya.